Sumptuary Laws

aturan pakaian yang melarang rakyat jelata bergaya seperti ningrat

Sumptuary Laws
I

Pernahkah kita kepikiran kenapa tas dengan logo tertentu harganya bisa setara dengan uang muka rumah? Atau kenapa ada orang yang rela makan mi instan sebulan penuh demi sepasang sepatu edisi terbatas? Kita mungkin sambil senyum-senyum berpikir kalau ini cuma masalah flexing zaman sekarang. Tapi, coba kita putar waktu dan bayangkan kalau kita hidup di Eropa abad pertengahan. Kita sedang jalan-jalan memakai baju warna ungu yang kebetulan kita jahit sendiri karena suka warnanya. Tiba-tiba, kita ditangkap aparat, diseret ke pengadilan, didenda sampai bangkrut, atau bahkan dihukum mati. Terdengar sangat konyol, bukan? Selamat datang di dunia Sumptuary Laws. Sebuah era ketika isi lemarimu bisa menjadi tiket menuju tiang gantungan.

II

Sumptuary Laws atau hukum sumptuaria adalah aturan resmi dari negara yang mengatur apa yang boleh dan sama sekali tidak boleh dipakai oleh masyarakat, murni berdasarkan kelas sosial mereka. Pada zaman Romawi Kuno atau era Ratu Elizabeth I di Inggris, pakaian bukanlah sekadar penutup tubuh. Pakaian adalah KTP yang berjalan. Warna ungu, misalnya, pewarnanya dibuat dari lendir siput laut langka bernama murex. Butuh belasan ribu siput cuma buat mewarnai satu jubah. Harganya tentu fantastis. Jadi, para penguasa bikin aturan tegas: cuma keluarga kerajaan yang boleh pakai warna ungu. Aturan ini juga berlaku merata untuk bahan kain sutra, bulu hewan tertentu, sampai panjang ujung sepatu. Para bangsawan saat itu sangat takut kalau rakyat biasa kelihatan sama kerennya dengan mereka. Mereka menggunakan hukum negara untuk memastikan jurang pemisah itu tetap terlihat jelas dari radius seratus meter.

III

Lalu, pertanyaannya, kenapa para kaum ningrat ini sampai segitunya? Apakah mereka sekadar insecure? Di sinilah titik di mana sejarah bertemu dengan psikologi manusia. Memasuki abad pertengahan akhir, jalur perdagangan global mulai maju pesat. Muncullah kelas sosial baru: para pedagang kaya. Kelas menengah ini tiba-tiba punya banyak uang. Mereka mulai membeli sutra impor, memakai perhiasan emas berlian, dan bergaya persis ala ningrat. Dan ini membuat para bangsawan panik luar biasa. Tatanan sosial terancam runtuh berantakan. Kalau orang kaya baru dari kampung bisa kelihatan seperti bangsawan murni, lalu apa bedanya darah biru dan darah merah biasa? Hukum sumptuaria pun akhirnya diperketat dengan hukuman yang makin brutal. Tapi, mari kita tahan sebentar. Kalau teman-teman membedah fenomena ini pakai kacamata sains, ada sebuah mesin rahasia di dalam otak kita yang membuat baik bangsawan maupun rakyat jelata terjebak dalam permainan konyol ini. Sebuah mesin evolusioner tak kasatmata yang usianya sudah ratusan ribu tahun.

IV

Mari kita berkenalan dengan Costly Signaling Theory atau teori sinyal mahal dalam biologi evolusioner. Baik hewan maupun manusia berevolusi untuk memamerkan "kualitas" genetik dan sumber daya mereka agar bisa bertahan hidup serta menarik pasangan. Burung merak jantan, contohnya, memamerkan ekornya yang berat, panjang, dan mencolok. Pesan biologisnya sangat jelas: "Lihat, saya punya ekor seberat ini, yang bikin susah terbang, tapi saya tetap bisa selamat dari kejaran predator. Gen saya pasti sangat superior." Bagi spesies manusia, pakaian mewah adalah ekor merak kita. Di masa lalu, kaum bangsawan menggunakan hukum formal untuk menjaga agar "ekor merak" mereka eksklusif dan tidak bisa ditiru sembarangan orang. Nah, di sinilah letak kejutan terbesarnya. Teman-teman, Sumptuary Laws sebenarnya tidak pernah benar-benar mati. Hukum itu hanya berganti kulit. Hari ini, kita tidak butuh titah raja untuk melarang kita pakai baju tertentu. Sistem ekonomi dan psikologi pasarlah yang mengambil alih peran sang raja. Ketika logo merek mewah mulai dipakai oleh semua orang berkat barang tiruan atau KW kelas atas, para old money modern langsung bergeser. Mereka beralih ke tren quiet luxury atau kemewahan sunyi. Baju rajut polos tanpa logo sama sekali, tapi harganya dua ratus juta rupiah. Mereka secara cerdas menciptakan sinyal baru yang kembali sangat mahal dan teramat sulit ditiru oleh kelas menengah. Aturannya tidak lagi tertulis di buku hukum perdata, tapi tertanam sangat rapi di deretan angka label harga dan algoritma media sosial.

V

Menyadari fakta biologis dan sejarah ini mungkin membuat kita merasa sedikit sinis melihat industri fesyen hari ini. Tapi, saya rasa kita tidak perlu membenci diri sendiri saat sesekali ingin tampil gaya atau membeli barang bagus. Kita ini manusia. Secara neurologis, otak kita memang sudah dirancang dari sananya untuk peduli pada status dan posisi sosial kita di dalam kelompok. Itu sangat wajar dan manusiawi. Namun, dengan memahami sejarah kelam Sumptuary Laws dan trik psikologi evolusioner di baliknya, kita semua jadi punya satu kekuatan baru yang sangat mahal: kesadaran kritis. Kita bisa berhenti sejenak sebelum menekan tombol checkout di keranjang belanja online. Kita bisa bertanya dengan jujur pada diri sendiri. Apakah kita membeli barang ini karena kita benar-benar menyukai nilainya? Atau, jangan-jangan kita sedang dijebak oleh versi modern dari hukum sumptuaria yang memaksa kita terus berlari kelelahan di atas treadmill status sosial? Pada akhirnya, pakaian paling mewah dan berkelas yang bisa kita kenakan hari ini bukanlah sutra berharga ratusan juta, melainkan kebebasan berpikir. Karena sungguh, tidak ada satu pun tren fesyen atau algoritma yang berhak menentukan seberapa berharga diri kita.